Bali, Mulai Tak Mampu Berkomunikasi Dengan Bahasa Ibunya

travelling, sebuah kata, sebuah aktifitas yang digemari banyak orang, termasuk saya. ketika kita ingin memulai perjalanan, terkadang kita takut, takut dirampok, takut tak ada tempat beristirahat, takut kehabisan uang, takut tidak bisa berbaur namun disanalah letak seni dan menarik dari sebuah perjalanan.

Dan untuk mengawali tahun 2014 ini saya juga melakukan aktifitas itu, travelling. Bandung, menjadi tujuan saya dan rekan-rekan. Kami mulai berangkat dari bali pada tanggal 29 desember 2014, pada gari itu kami telah tiba di airport ngurah rai pada pukul 07:00 wita dengan tas ala backpacker. Setelah registrasi dan melengkapi boarding pass kami menunggu di lobi keberangkatan domestik, hingga akhirnya terdengar dari pebgeras suara panggilan bahwa flight yang kami tumpangi bersiap tuk berangkat dan para penumpang dipersilahkan naik ke pesawat dan menempati seat masing-masing.

di ujung atas tangga naik pesawat kami disambut dua orang pramugari berparas cantik, penerbangan hari itu berjalan lumayan lancar, setibanya di bandung kami mulai berjalan kaki menyusuri jalanan kota bandung untuk mencari hotel yang telah kami pesan. dan disinilah dimulai hal-hal unik yang saya mau bagikan dan tidak saya tamukan di tanah kelahiran saya, Bali.

Di kota Bandung kami dapat menemui gadis-gadis berparas ayu yang masih mau naik turun angkot untuk mencapai tujuan dan bahkan tidak jarang mereka menggunakan dress ketika menaiki angkot. Hal yang sangat sulit ditemui di bali atau bahkan sudah tidak mungkin ditemui di bali. Dan yang paling menarik di kota ini kemanapun kaki melangkah saya masih mendengar celoteh warga yang berbahasa sunda, baik itu di tempat makan, mall, distro dan berbagai tempat lainnya. Sedangkan di bali jarang sekali saya mendengar obrolan warga berbahasa bali, di desa saja ada beberapa warga yang mulai tak bisa berbahasa bali (katanya). Apalagi di kota, sudah jarang sekali terdengar yang berbincang-bincang dengan bahasa bali. Miris banget saya rasa, mungkin saat saya punya cucu sudah tak ada lagi yang bisa berbahasa bali atau bahkan hanya menjadi salah satu muatan lokal saja dalam proses belajar mengajar.

Dari sini saya belajar mengerti arti sebuah kesederhanaan, dan yang pastinya arti sebuah pelestarian. “perjalanan bukan tentang seberapa banyak yang mampu didapat, tapi seberapa banyak yang mampu kamu lepaskan”

About JaniBali
Free Thinker, Love To Eat and Laught Love Travelling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: