Terteran / Perang Api

Bali telah terkenal dengan keindahan alam dan budayanya, salah satunya tradisi perang api atau ter teran yang ada di salah satu kabupaten di bagian timur pulau bali, tepatnya di kabupaten karangasem. Kabupaten yang sebagian besar daerahnya ini berupa daerah kering ini menyimpan tradisi unik yang disebut Terteran atau Perang Api yang dapat kita temui pada hari pengrupukan (sehari sebelum nyepi) setiap dua tahun sekali.

Read more of this post

Advertisements

Melukat

Sering kita dengar dalam masyarakat Bali kata-kata melukat. Melukat adalah salah satu kegiatan ritual yang bertujuan untuk membersihkan diri dan pikiran dari hal-hal negatif serta menyeimbangkan aura yang ada pada kita. Melukat biasanya dilaksanakan pada hari-hari baik seperti purnama, tilem dan kajeng kliwon atau hari baik menurut hitungan tri wara dan panca wara.

Melukat biasanya dilaksanakan oleh peranda (pendeta), pemangku, dan orang-orang yang mempunyai tingkat spiritual tertentu seperti orang yang nyungsung sesuhunan. Atau pada tempat suci yang mempunyai areal khusus untuk penyucian.

Tempat untuk melukat
Adapun tempat-tempat suci yang biasa untuk kegiatan melukat adalah tempat-tempat suci yang diyakini mempunyai kekuatan alam yang besar dan mempunyai vibrasi magis. Tempat-tempat itu antara lain:
• Sumber (klebutan) : tempat melukat jenis ini biasanya terdapat pada pegunungan atau pada pedalaman, melukat dengan air sumber bertujuan juga untuk menambah aura positif. Salah satunya contohnya adalah di Pura Tirtha Empul di Tampak Siring, pesucian Pura Dalem Pingit lan Kusti di Sebatu, Gianyar. Dan masih banyak lagi.

• Campuhan (pertemuan aliran sungai dan laut) : tempat melukat ini biasanya di daerah pinggiran tersebar di semua wilayah pulau bali. Salah satu contohnya adalah di Pura Dalem Pangembak, Pura Beji Dalem Sakenan. Dan masih banyak lagi.

Wedding Documentation “Harijaya & Deyu Mawar”

Read more of this post

TRADISI PERANG PANDAN/MEKARE-KARE DI TENGANAN – KARANGASEM

Tradisi perang pandan atau yang sering disebut mekare-kare di Desa Tenganan dilakukan oleh para pemuda dengan memakai kostum/kain adat tenganan, bertelanjang dada bersenjatakan seikat daun pandan berduri dan perisai untuk melindungi diri. Tradisi ini berlangsung setiap tahun sekitar bulan Juni, biasanya selama 2 hari.   perang pandan diawali dengan ritual upacara mengelilingi desa untuk memohon keselamatan, setelah itu perang pandan dimulai dan kemudian ditutup persembahyangan di Pura setempat dilengkapi dengan menghaturkan tari Rejang. Read more of this post

Wedding Documentation “OKA”

Morning Fisherman Activities

Morning Activities at Traditional Village Tenganan “Saiban”

Yadnya sesa/banten saiban merupakan salah satu yadnya atau persembahan yang dilakukan setiap hari yang sering di sebut dengan Nitya Karma. Yadnya sesa ini dilakukan setelah selesai memasak dan sebelum menikmati makanan yang telah dimasak.

Melaksanakan persembahan atau yadnya merupakan kewajiban serta tugas bagi umat Hindu untuk menunaikannya. Dalam menunaikan tugas dan kewajiban tersebut hendaknya dilandasi dengan dharma dan etika yang baik serta ketulusan hati. Sebagaimana diketahui bahwa yadnya sebagai sarana untuk menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa untuk memperoleh kesucian jiwa. Tidak saja kita menghubungkan diri dengan Tuhan, juga dengan manifestasi-Nya dan makhluk ciptaan-Nya termasuk alam beserta dengan isinya. Dengan demikian yadnya merupakan persembahan dan pengabdian yang tulus iklas tanpa adanya harapan untuk medapatkan imbalan-imbalan.
Yadnya sesa atau mebanten nasi seusai masak juga merupakan penerapan dari ajaran kesusilaan Hindu, yang menuntut umat untuk selalu bersikap anersangsya yaitu tidak mementingkan diri sendiri dan ambeg para mertha yaitu mendahulukan kepentingan di luar diri. Pelaksanaan yadnya sesa juga bermakna bahwa Read more of this post